Cukong TNTN Tersangka Tapi Bebas Berkeliaran, Pengamat: Jangan Jadikan Pengembalian Lahan sebagai “Tiket Bebas Penjara”

- Penulis

Rabu, 21 Januari 2026 - 19:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Riau, LA – Keputusan aparat penegak hukum yang tidak melakukan penahanan terhadap dua tersangka cukong perambah Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) berinisial NA dan DP menuai kritik keras. Perlakuan ini dinilai mencederai rasa keadilan publik dan berpotensi menciptakan preseden buruk bagi penegakan hukum lingkungan di Riau.

Pengamat hukum muda Riau, Rifky Rizal Zaman, S.H., menyoroti tajam anomali hukum tersebut. Menurutnya, alasan subjektif penyidik untuk tidak menahan tersangka kelas kakap yang mampu menguasai 401 hektare lahan negara sangat tidak masuk akal.

Lonceng Kematian Bagi Penegakkan Hukum di Sektor Kehutanan. 

“Ini lonceng kematian bagi penegakan hukum di sektor kehutanan. Jika penjual tanah atau petani kecil langsung ditahan, mengapa pemodal besar atau cukong justru melenggang bebas? Asas Equality Before the Law atau persamaan di mata hukum seolah mati suri dalam kasus ini,” tegas Rifky dalam keterangan persnya, Selasa (21/1/2026).

Rifky menanggapi pemberitaan yang beredar luas, di mana kedua tersangka diketahui menyerahkan kebun sawit seluas 401 hektare beserta alat berat kepada Satgas Penertiban Kawasan Hutan pada 29 Juni 2025. Padahal, status tersangka sudah ditetapkan sejak 24 Juni 2025.

Niat Mengembalikan Muncul Karena Sudah Terdesak.

“Sebagaimana dikutip dari laman Riaukepri.com, penyerahan aset itu dilakukan setelah SPDP terbit. Artinya, niat mengembalikan itu muncul karena sudah terdesak, bukan kesadaran murni. Secara hukum pidana, pengembalian kerugian negara atau barang bukti tidak menghapus sifat melawan hukum. Pidana itu sudah sempurna saat mereka merusak hutan. Jangan sampai pengembalian lahan ini dianggap sebagai ‘tiket’ atau barter untuk menghindari jeruji besi,” cetus Rifky.

Ketua Forum Transparansi 08 Astacita ini juga mengingatkan bahwa kejahatan lingkungan adalah extraordinary crime yang dampaknya dirasakan oleh orang banyak. Membiarkan cukong tidak ditahan dengan alasan kooperatif adalah sebuah kenaifan.

“Cukong punya uang, punya kuasa, dan punya jaringan. Potensi mereka untuk menghilangkan barang bukti lain, mempengaruhi saksi, atau bahkan mengulangi perbuatannya di tempat lain jauh lebih besar daripada pelaku lapangan. Logika hukum apa yang dipakai sehingga mereka dinilai tidak perlu ditahan?” tanyanya retoris.

Kejati Harus Lebih Tegas dan Punya Nyali Saat Pelimpahan Tahap II. 

Lebih lanjut, Rifky mendesak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau untuk tidak ragu mengambil sikap tegas saat pelimpahan tahap II nanti.

“Jika polisi tidak menahan, Jaksa punya wewenang penuh untuk menahan. Masyarakat Riau menanti ketegasan aparat. Jangan biarkan publik berpikir bahwa hukum di negeri ini bisa ditawar hanya dengan menyerahkan hasil curian yang sudah ketahuan,” tutup Rifky.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh Riaukepri.com dalam artikel bertajuk “Cukong Perambah TNTN Jadi Tersangka, Pengamat Pertanyakan Alasan Tidak Ditahan”, pihak Kejati Riau membenarkan penetapan tersangka NA (Nico Jan Andrio Sianipar) dan DP (Dedi Purnomo) terkait pembukaan lahan ilegal seluas 401 hektare. Namun, hingga kini fisik kedua tersangka belum mendekam di balik jeruji besi.

Penulis : Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel lensaaksara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KOMPOR Foundation dan PPSP Desak Pembuktian Legalitas Aktivitas Kampus di Pasar Kodim
KOMPOR Riau dan Pedagang Pasar Kodim Tagih Kepastian Dokumen Pengelolaan Pasar
PEDAGANG PASAR KODIM MENUNGGU KEJELASAN TINDAK LANJUT PERMOHONAN INFORMASI DAN DOKUMEN
Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Riau ( UMRI ) Kelompok 2 Gelar Program Peduli Lingkungan melalui Penghijauan di Kecamatan Tuah Madani Kelurahan Air Putih Kota Pekanbaru
Terciduk di Siak! Perjalanan Truk Rokok “Bodong” Asal Surabaya Berakhir di Tangan Bea Cukai
KOMPOR Tunggu Itikad Baik PT PMJ, Surat Audiensi Terkait Pasar Kodim Belum Ditindaklanjuti
Terima Aduan Pedagang, KOMPOR FOUNDATION Investigasi Dugaan Pungli dan Alih Fungsi di Pasar Kodim Pekanbaru
Kota Pekanbaru Masuki Usia 242 Tahun, PT PLN Nusantara Power UP Tenayan Ucapkan Selamat dan Apresiasi Kinerja Pemko  
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 19:23 WIB

KOMPOR Foundation dan PPSP Desak Pembuktian Legalitas Aktivitas Kampus di Pasar Kodim

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:45 WIB

KOMPOR Riau dan Pedagang Pasar Kodim Tagih Kepastian Dokumen Pengelolaan Pasar

Jumat, 14 Agustus 2026 - 22:17 WIB

PEDAGANG PASAR KODIM MENUNGGU KEJELASAN TINDAK LANJUT PERMOHONAN INFORMASI DAN DOKUMEN

Rabu, 12 Agustus 2026 - 06:04 WIB

Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Riau ( UMRI ) Kelompok 2 Gelar Program Peduli Lingkungan melalui Penghijauan di Kecamatan Tuah Madani Kelurahan Air Putih Kota Pekanbaru

Rabu, 8 Juli 2026 - 22:14 WIB

KOMPOR Tunggu Itikad Baik PT PMJ, Surat Audiensi Terkait Pasar Kodim Belum Ditindaklanjuti

Berita Terbaru