Pekanbaru, (LA) – Gelombang protes besar-besaran mengguncang markas PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Rumbai Pekanbaru Riau, hari ini (27/10/25). Aksi tersebut dipimpin oleh tiga Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dari wilayah Rumbai: Rumbai, Rumbai Timur, dan Rumbai Barat (Aditya Permana, Yogi Devfano, dan Gusman Angga Riawan). Mereka menuntut keadilan finansial dan sosial yang selama ini dianggap terabaikan oleh operator Blok Rokan.
Kemarahan massa aksi ini berkaitan dengan klaim mencengangkan mengenai bagi hasil minyak (Participating Interest/PI) yang dinilai sangat rendah, yaitu hanya “satu dolar per bulan” untuk Provinsi Riau. Tuntutan ini melambangkan frustrasi warga terhadap perlakuan “sapi perahan” yang dialami oleh daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia tersebut.
KNPI menuding sistem pembagian hasil saat ini sebagai bentuk “pengkhianatan fiskal”. Mereka menilai, meskipun Riau menyuplai 30-40% produksi minyak nasional, provinsi ini hanya menerima 15,5% dari total bagi hasil, sedangkan pemerintah pusat memperoleh 84,5%. “Bagaimana mungkin, daerah yang memberikan kontribusi sebesar itu hanya mendapatkan sisanya?” seru orator aksi, mengekspresikan kemarahan yang mendalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam surat tuntutan yang diajukan, para pemuda menyampaikan tiga poin utama yang harus dipenuhi oleh PHR tanpa kompromi:
1. Participating Interest Naik Drastis ke 35%: Masyarakat Riau mendesak peningkatan PI dari 15,5% menjadi 35% agar sesuai dengan kontribusi yang diberikan.
2. Penerimaan Tenaga Kerja Lokal: PHR diminta untuk meningkatkan serapan tenaga kerja lokal sebagai respons terhadap tingginya pengangguran di daerah tersebut.
3. Tanggung Jawab Lingkungan dan Sosial: Diharapkan PHR memberikan kompensasi yang adil atas dampak sosial dan lingkungan dari operasinya.
Aksi yang disertai dengan ultimatum tegas ini mencerminkan puncak kekecewaan masyarakat Riau terhadap janji alih kelola Blok Rokan yang seharusnya membawa berkah, tetapi justru membawa penderitaan. “Jika tuntutan kami tidak diindahkan, kalian hanya punya satu pilihan: Beri hak Riau atau enyah!” tegas salah satu orator.
Dengan demonstrasi ini, pemuda Riau menginginkan keadilan dan pertanggung jawaban yang lebih besar dari PHR, menyerukan kesetaraan bagi daerah yang kaya akan sumber daya namun terpinggirkan dalam pembagian hasil. Aksi ini dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang telah berlangsung lama, mendesak perusahaan untuk menghormati hak-hak masyarakat setempat.










